Mengulas Mengenai Koteka, Pakaian Adat Dari Papua Yang Unik


Istilah koteka, sudahlah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia khususnya bagi masyarakat Papua. Koteka sendiri adalah pakaian adat yang konon fungsi utamanya ialah untuk menutupi kemaluan kaum pria. 

Sebenarnya, masyarakat Papua tak hanya memiliki koteka saja, beberapa suku di Papua juga mengandalkan pakaian lain seperti rumbai. Hanya saja, dari beberapa busana adat, koteka adalah busana yang paling melegenda dan dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Seiring berkembangnya zaman, koteka menjadi benda bersejarah. 

Kini, masyarakat perkotaan di Papua sudah tak mengenakan koteka lagi. Sementara itu, beberapa orang pedalaman Papua masih memanfaatkan koteka. Lantas, seperti apa sejarah koteka hingga menjadi benda bersejarah yang melegenda? Berikut adalah misteri awal mula hadirnya koteka sebagai busana adat khas Papua.



  • Asal muasal koteka
Sebagian besar orang mengenal koteka sebagai pakaian khas orang-orang pedalaman yang ada di Papua. Namun, tahukah Anda tak semua orang-orang pedalaman di sini mengenakan koteka lho. Koteka sendiri berasal dari bahasa suku pedalaman atau tepatnya di Kabupaten Paniai. Sementara itu, sebagian suku yang tinggal di pegunungan Jayawijaya menyebut koteka sebagai holim atau horim. Menurut dari beberapa sumber, koteka terbuat dari kulit labu air. Sementara biji dan daging labu akan dihilangkan dan kulit labu dikeringkan. Konon, banyak yang beranggapan bentuk koteka serta ukuranna tergantung status si pemakainya. Namun hal tersebut rupanya tak sepenuhnya benar. Ukuran koteka disesuaikan dengan aktifitas penggunanya. Misalnya untuk bekerja atau upacara. Para lelaki akan mengenakan koteka pendek pada saat bekerja atau berburu di hutan. Sementara koteka panjang lengkap dengan hiasannya akan dikenakan pada saar upacara adat.

  • Perkembangan koteka
Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa koteka sudah tak lagi dipakai oleh masyarakat Papua yang tinggal di perkotaan. Dahulu, setiap suku di Papua memiliki perbedaan bentuk koteka. Misalnya saja orang Yali lebih tertarik dengan bentuk labu panjang. Sementara orang Tiom menggunakan dua labu. Seiring zaman, koteka jarang digunakan untuk aktifitas sehari-hari. Kala itu, koteka dilarang dikenakan terutama saat berada di kendaraan umum dan sekolah. Sebagai gantinya koteka diperjualbelikan sebagai oleh-oleh saja. Tak hanya sampai pada pelarangan penggunaannya, sejak tahun 1950an, para misionaris kerap mengkampanyekan celana pendek sebagai pengganti koteka. Faktanya, hal tersebut tak serta merta membuat masyarakat berganti dengan celana pendek. Suku Dani yang berada di Lembah Baliem rupanya terkadang masih mengenakan celana disamping juga tetap mempertahankan koteka.

Nah, itulah misteri koteka, pakaian adat Papua yang melegenda dari ratusan tahun lalu, saya memohon maaf apabila ada kesalahan dalam hal penulisan ataupun penjelasan, apabila anda menyukai artikel ini silahkan share ke teman-teman anda. Terimakasih