Mengenal Tentang Sejarah Pendidikan di Indonesia


Halo, Sobat semua, apa kabar semuanya? Pada artikel kali saya ingin para sobat semua, baik guru dan murid, untuk berkilas-balik mengenai sejarah pendidikan Indonesia. Mari kita temui kembali dan kenali perkembangan pendidikan Indonesia, minimal asal mula dari pendidikan yang kita alami saat ini. Berarti pendidikan yang diberlakukan secara masif di lebih dari satu daerah dan dikelola oleh satu badan pemerintah pusat.
Nah, setelah kita mengenali asal mula dan perkembangan sistem pendidikan nasional semoga kita dapat melihat satu pola dan mungkin memprediksi atau bahkan merumuskan suatu imajinasi tentang sistem pendidikan ideal, berdasarkan tentang pola yang sudah terjadi di sepanjang pelaksanaan Sisdiknas Indonesia. Yuk, kita mulai cerita sejarah pendidikan Indonesia-nya!

Cikal Bakal Sistem Persekolahan Indonesia: De Facto dan De Jure

Secara de jure cikal bakal sistem pendidikan nasional dianggap terjadi pada tahun 1922, saat Taman Siswa didirikan Ki Hadjar Dewantara dan secara tegas menyatakan dirinya sebagai “lembaga pendidikan nasional”. Nasionalisme di Taman Siswa pada masa awal ditandai dengan perekrutan guru-guru yang berasal dari aktifis-aktifis pemudi/a pergerakan kemerdekaan, pembiayaan yang dikelola secara otonomi berbasis swadaya kerakyatan daerah dan berpulang kepada nilai-nilai budaya lokal.
Klaim de jure ini dibantah oleh penulis Anton Dwisono Hanung Nugrahanto. Dalam tulisannya secara gamblang ia menyorot bahwa cikal bakal sistem pendidikan nasional justru ditanamkan oleh Gubernur Jenderal Herman William Daendels dan Gubernur Jenderal Van Heudtz. Apabila klaim bahwa Taman Siswa merupakan cikal bakal pendidikan nasional karena ke-swadaya-annya, maka klaim Anton adalah:
  • Daendels adalah bapak sekolah nasional karena ia yang menginisiasi pendirian “Sekolah Ronggeng” terutama di sepanjang Anyer-Panarukan. “Sekolah Ronggeng” pertama didirikan pada 1810 di Cirebon atas dorongan Daendels kepada Pangeran Cirebon. Selanjutnya pada 1811 Daendels mendirikan sekolah bidan pertama di Nusantara untuk menangani kasus kematian bayi yang tinggi.
  • Van Heutz adalah bapak sistem pendidikan nasional karena pada 1907 usulannya untuk pengadaan sekolah rakyat atau sekolah desa yang dikelola secara sistematis oleh pemerintah pusat Hindia Belanda disetujui pemerintah.

Linimasa Perkembangan Undang-undang Pendidikan



Mengutip jurnalis dan peneliti Reiza Patters dari liputan Tirto.ID, dalam sejarah pendidikan Indonesia, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah melakukan 11 kali pergantian kurikulum pendidikan nasional dalam rentang 1947-2013. Berikut lini masanya.
1947 – 1964: Rentjana Peladjaran Dirintji Dalam Rentjana Peladjaran Terurai
1964 – 1968: Rentjana Pendidikan Dasar
1968 – 1974: Koerikoeloem Sekolah Dasar
1974 – 1975: Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan
1975 – 1984: Kurikulum Sekolah Dasar
1984 – 1994: Cara Belajar Siswa Aktif
1994 – 2004: CBSA 1994
2004 – 2006: Kurikulum Berbasis Kompetensi
2006 – 2013: Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
2013 – saat ini: Kurikulum 2013

Sejarah Pendidikan Negara di Luar Indonesia


Apakah pendidikan di negara lain dimulai semasa dengan Indonesia? Mari kita lihat bersama kepada 4 negara yang bercokol di ranking atas literasi PISA. China dan Kanada selain memiliki ranking tinggi, karakter sosio-geografi-demografi mereka mirip dengan Indonesia. Sementara Jepang dan Finlandia merupakan suri teladan pendidikan karakter di Eropa dan Asia.
Banyak sarjana China percaya bahwa sejarah pendidikan di China dapat ditelusuri kembali pada abad ke-16 SM. Selama periode waktu ini, pendidikan adalah hak istimewa para elit. Ajaran Konfusianisme selama Musim Semi dan Musim Gugur dan periode Tiga Negara, kurikulum terutama didasarkan pada The Four Books and The Five Classics.
Kanada abad ke-18 dan awal abad ke-19, keluarga tetap menjadi tempat yang tak tertandingi untuk pendidikan di Kanada; beberapa anak di Inggris Utara Amerika saat ini menerima instruksi formal baik dari tutor atau di sekolah.
Namun, pola tersebut mulai berubah selama periode ini, ketika pemerintah Inggris memandang pendidikan sebagai cara mempromosikan identifikasi budaya dengan Protestanisme, bahasa Inggris, dan kebiasaan Inggris. Pembentukan sistem sekolah di Kanada selama abad ke-19 mengikuti bentuk dan kronologi yang sangat mirip karena ambisi yang kompleks dan sering bersaing baik dari pendidik resmi maupun orang tua.
Kesamaan umum di antara sistem sekolah di Kanada muncul dari ambisi para pemimpin pendidikan (digambarkan secara tepat oleh sejarawan sebagai “promotor sekolah”) sepanjang pertengahan abad ke-19 dan kesediaan banyak orang tua (meskipun tentu saja tidak semuanya) untuk mengirim anak-anak mereka ke sekolah kalau kondisi ekonomi memungkinkan.
Pendidikan publik di Finlandia dimulai pada 1860-an. Sumber asli sekolah dalam bahasa asli di Finlandia adalah Gereja, seperti yang terjadi di sejumlah negara lain. Sistem sekolah nasional, independen dari Gereja, didirikan pada 1866. Tiga tahun kemudian, Dewan Pengawas Pendidikan didirikan di bawah Kementerian Pendidikan untuk memeriksa, memantau dan mengatur sistem sekolah di Finlandia.
Sejarah pendidikan Jepang dapat ditelusuri sejauh zaman Edo atau Shogun Tokugawa, tingkat pendidikan di Jepang tidak berarti rendah. Pemerintah Keshogunan dan banyak domain feodal dari Keshogunan, mendirikan sekolah khusus yang berfokus terutama pada mengajar klasik China (Studi Konfusianisme) untuk anak-anak dari kelas prajurit samurai (Shoheizaka sekolah, sekolah fief). Selain ini, “akademi” swasta, mengajarkan pelajaran bahasa Mandarin, Studi Jepang, juga studi Belanda dan Barat studi.
Anak-anak belajar membaca, menulis, dan keterampilan praktis yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari di terakoya, yang cukup tersebar luas di daerah pedesaan serta di daerah perkotaan. Pada 1871, Kementerian Pendidikan didirikan sebagai bagian dari pemerintah pusat. Dan di dalam tahun berikutnya, 1872, pendidikan sistematis pertama peraturan itu diundangkan dalam bentuk Ordonansi Pendidikan.
Amerika adalah model untuk sistem sekolah, yang terdiri dari tiga tingkatan sekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan universitas. Di sisi lain, Prancis adalah modelnya untuk sistem pendidikan terpusat administrasi dan sistem distrik sekolah.
Nah, bagaimana sobat semua dan para guru? Itulah sekilas gambaran sejarah pendidikan Indonesia. Menjadi jelas bahwa mungkin perjalanan perkembangan Sisdiknas masih jauh. Sementara empat negara di atas sudah secara mandiri mengelola pendidikannya sejak pra 1890 atau lebih dari 120 tahun, Indonesia belum ada 100 tahun mulai mengelola sistem pendidikan nasionalnya. Namun seyogyanya dengan kemajuan teknologi abad ini kita perlu berharap dan terus bekerja mengejar ketertinggalan kita. Semoga artikel ini sangat bermanfaat bagi kita semua, terima kasih.

Beberapa Faktor Penting Yang Berpengaruh Dalam Proses Belajar


Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses kegiatan belajar. Faktor-faktor itu ada yang terdapat pada diri kita sendiri, tetapi ada pula yang di luar kita. Dalam hal ini faktor yang mempengaruhi proses belajar ada tujuh faktor yang mendukung. Mari kita lihat beberapa faktor tersebut.

1. Faktor Kecerdasan

Yang dimaksud dengan kecerdasan ialah kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan berfikir yang bersifat rumit dan abstrak. Tingkat kecerdasan dari masing-masing tidak sama. Ada yang tinggi, ada yang sedang dan ada pula yang rendah. Orang yang tingkat kecerdasannya tinggi dapat mengolah gagasan yang abstrak, rumit dan sulit dilakukan dengan cepat tanpa banyak kesulitan-kesulitan dibandingkan dengan orang yang kurang cerdas.
Orang yang cerdas itu dapat memikirkan dan mengerjakan lebih banyak, lebih cepat dengan tenaga yang relatif sedikit. Kecerdasan adalah suatu kemampuan yang dibawa dari lahir sedangkan pendidikan tidak dapat meningkatkannya, tetapi hanya dapat mengembangkannya. Namun hal ini tingginya kecerdasan seseorang bukanlah suatu jaminan bahwa ia akan berhasil menyelesaikan pendidikan dengan baik, karena keberhasilan dalam belajar bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan saja tetapi juga oleh faktor-faktor lainnya.
2. Faktor Belajar

Yang dimaksud dengan faktor belajar adalah semua segi kegiatan belajar, misalnya kurang dapat memusatkan perhatian kepada pelajaran yang sedang dihadapi, tidak dapat menguasai kaidah yang berkaitan sehingga tidak dapat membaca seluruh bahan yang seharusnya dibaca. Termasuk di sini kurang menguasai cara-cara belajar efektif dan efisien.
3. Faktor Sikap
Banyak pengaruh faktor sikap terhadap kegiatan dan keberhasilan siswa dalam belajar. Sikap dapat menentukan apakah seseorang akan dapat belajar dengan lancar atau tidak, tahan lama belajar atau tidak, senang pelajaran yang di hadapinya atau tidak dan banyak lagi yang lain.  Diantara sikap yang dimaksud di sini adalah minat, keterbukaan pikiran, prasangka atau kesetiaan. Sikap yang positif terhadap pelajaran merangsang cepatnya kegiatan belajar.
4. Faktor Kegiatan
Faktor kegiatan ialah faktor yang ada kaitannya dengan kesehatan, kesegaran jasmani dan keadaan fisik seseorang. Sebagaimana telah diketahui, badan yang tidak sehat membuat konsentrasi pikiran terganggu sehingga mengganggu kegiatan belajar.
5. Faktor Emosi dan Sosial
Faktor emosi seperti tidak senang dan rasa suka dan faktor sosial seperti persaingan dan kerja sama sangat besar pengaruhnya dalam proses belajar. Ada diantara faktor ini yang sifatnya mendorong terjadinya belajar tetapi ada juga yang menjadi hambatan terhadap belajar efektif.
6. Faktor Lingkungan
Yang dimaksud faktor lingkungan ialah keadaan dan suasana tempat seseorang belajar. Suasana dan keadaan tempat belajar itu turut juga menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan belajar. Kebisingan, bau busuk dan nyamuk yang mengganggu pada waktu belajar dan keadaan yang serba kacau di tempat belajar sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar. Hubungan yang kurang serasi dengan teman dapat menganggu konsentrasi dalam belajar.
7. Faktor Guru
Kepribadian guru, hubungan guru dengan siswa, kemampuan guru mengajar dan perhatian guru terhadap kemampuan siswanya turut mempengaruhi keberhasilan belajar. Guru yang kurang mampu dengan baik dalam mengajar dan yang kurang menguasai bahan yang diajarkan dapat menimbulkan rasa tidak suka kepada yang diajarkan dan kurangnya dorongan untuk menguasainya di pihak siswa.
Sebaliknya guru yang pandai mengajar yang dapat menimbulkan pada diri siswa rasa menggemari bahan yang diajarkannya sehingga tanpa disuruh pun siswa banyak menambah pengetahuannya dibidang itu dengan membaca buku-buku, majalah dan bahan cetak lainnya.
Guru dapat juga menimbulkan semangat belajar yang tinggi dan dapat juga mengendorkan keinginan belajar yang sungguh-sungguh. Siswa yang baik berusaha mengatasi kesulitan ini dengan memusatkan perhatian kepada bahan pelajaran, bukan kepada kepribadian gurunya.
Itulah beberapa faktor penting yang berpengaruh dalam proses belajar, semoga artikel ini bermanfaat bagi para pembaca, apabila anda menyukai artikel ini silahkan share kepada teman-teman anda.